SANG JUARA

Dr. Indra Kusumah

SANG JUARA

Tahukah Anda bahwa Anda dilahirkan karena Anda seorang juara?. Bagaimana tidak, sedangkan Anda adalah satu di antara 250.000.000 calon manusia yang berlomba-lomba dalam sebuah ruangan sempit dan melawan arus serta jarak yang jauh untuk mencapai ovum. Bagaikan 200.000.000 manusia mencebur ke muara Bengawan Solo untuk berlomba mencapai  hulu sungai. Dalam kompetisi yang dahsyat tersebut, Andalah Sang Juara, dan karena itulah Anda lahir.

Demikianlah Allah mengajarkan bahwa prosesi pembentukan manusia sudah dimulai melalui kompetisi. Demikian pula aksioma kehidupan memberitahu jati dirinya, bahwa ia adalah medan pertarungan yang penuh kompetisi dan yang layak tampil hanyalah para pemilik mental juara. Adapun Sang Pecundang, hanya layak mengisi keranjang sampah sejarah.

9k=

Kompetisi adalah keniscayaan sejarah yang karenanya lahir sang juara dan sang pecundang. Itulah pilihannya. Namun, ada pertanyaan kehidupan yang mendasar, mungkinkah menjadi orang yang senantiasa menang dan tak pernah terkalahkan? Jika ya, siapakah sang juara tersebut?.

Jawabannya: sangat mungkin!, dan orangnya adalah orang yang membuat Rasulullah terpesona dengan sabdanya: “Fantastis sekali kehidupan seorang yang beriman (mukmin), semua momentum baik baginya. Jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur, dan  itu baik baginya. Dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya”.

Ya, Sang Juara itu bernama mukmin. Ia senantiasa juara bukan karena senantiasa dapat mengalahkan lawannya, namun karena memahami hakikat dan filosofi kemenangan sejati serta senantiasa berada di dalamnya. Ia memahami bahwa kemenangan sejati adalah ketika setiap momentum memiliki makna dalam kehidupannya.  Mungkin saja dia gagal, tapi dia senantiasa mampu bangkit dari setiap kegagalan. Itulah penyebab dia senantiasa menang melawan tantangan-tantangan kehidupan.

Senantiasa ada efek positif yang dirasakan oleh sang juara dalam setiap jenak-jenak kehidupannya karena dia memiliki kebiasaan produktif: diamnya adalah pikir (shamtuhu fikrun), bicaranya adalah dzikir (kalamuhu dzikrun) dan pandangannya ibrah (nadzaruhu ‘ibrah).

Senjata pertama dan utama Sang Juara bernama sabar dan syukur. Sabar merupakan mekanisme pertahanan jiwa yang tidak ada batasnya, hanya saja ia bisa berubah bentuk dalam berbagai derivasinya: dari keridhaan hati, kelembutan lisan, penghindaran konflik sampai jihad fi sabilillah, dari sikap defensif sampai ofensif.

Bukankah para petarung  sejati senantiasa mengatakan, “bertahan yang paling tangguh adalah dengan menyerang?”. 

Syukur merupakan maksimalisasi dan optimalisasi pendayagunaan nikmat untuk menstimulasi hadirnya nikmat yang berlipat ganda.

Sedangkan nikmat Allah itu beraneka ragam: potensi, energi, waktu dan sebagainya. Sang juara mengenali betul nikmat tersebut dan mampu memanfaatkannya secara efektif dan efisien dalam setiap sisi kehidupannya.

Jika syukur dan sabar telah menjadi jurus andalan. Anda telah memastikan diri untuk bersama kafilah para juara sejati. Setelah itu, bersiaplah untuk menggetarkan dunia, menggoda kemenangan dan mempesonakan sejarah sebagaimana para juara sejati terdahulu melakukannya. Siapkah?.

Kita tidak akan berputus asa, justru Sang Putus Asa-lah yang akan berputus asa karena tak bisa memasuki jiwa kita”

(Hasan Al Banna)


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar