HOMOSEKSUAL ADALAH UJIAN YANG BISA DIATASI

Dr. Indra Kusumah

HOMOSEKSUAL ADALAH UJIAN YANG BISA DIATASI


Apakah homoseksual bawaan dari lahir? Nyatanya, banyak jurnal yang membantah adanya “gen gay” ini. Menurut alumni psikologi Unpad, Indra Kusumah, penyakit LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) didapat dari faktor eksternal seperti pola asuh, pergaulan, hingga media.


Apakah homoseksual bisa disembuhkan? Insya Allah bisa! Indra Kusumah menceritakan pengalamannya menerapi dua klien yang mengidap homoseksual.


Kru KabarUmat melakukan wawancara melalui aplikasi whatsapp Indra Kusumah, S.Psi., M.Si., CHt. (Terapis, Trainer TRUSTCO dan Penulis buku ‘Keajaiban MotivAksi: Rahasia Sukses Sang Juara).


Bagaimana ceritanya Anda dapat pasien penderita kelainan seksual?


Latar belakang pendidikan Saya psikologi. Meski demikian, awalnya Saya tidak berminat dengan psikologi klinis yang terkait problem-problem psikologis. Ketertarikan terhadap hal itu meningkat setelah Saya belajar teknik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) dari Mas Ahmad Faiz Zainudhin dan Hypnotherapy dari Yan Nurindra. Ternyata sekarang ada teknik-teknik baru yang membantu kesembuhan problem-problem fisik dan problem psikologis dengan cara yang sederhana dan dalam waktu yang singkat.


Saya pun mempraktikkan teknik SEFT ke banyak orang. Alhamdulillah dengan teknik SEFT tersebut, Allah SWT menyembuhkan banyak orang yang mengalami problem-problem fisik maupun psikologis.


Setelah Saya merasakan efektifitas teknik tersebut, Saya kembangkan dengan teknik lain yang Saya pelajari dan sharing teknik tersebut ke banyak orang dalam pelatihan-pelatihan .


Saya pun pernah publish di Facebook bersedia membantu terapi gratis bagi yang mengalami phobia dan trauma.


Dari situlah banyak orang dengan berbagai problem yang menghubungi minta bantuan diterapi. Di antaranya ada dua orang yang mengaku gay dan ingin sembuh. Mereka datang di waktu yg berbeda dan antara mereka tidak saling kenal.


Perkembangan dua pasien itu bagaimana sekarang?


Kita biasanya menyebut orang yang diterapi dengan istilah klien, bukan pasien. Kalau pasien mungkin lebih tepat bagi dokter.


Sebelum terapi, Saya menggali terlebih dahulu latar belakang dan hal-hal terkait masalah yang klien hadapi, agar Saya memahami masalahnya secara komprehensif.


Setelah diterapi, intensitas ketertarikan klien pertama terhadap sesama lelaki alhamdulillah turun dari angka 9 ke angka 0 dalam skala 0-10. Beberapa bulan setelah terapi, Saya coba kontak orangnya untuk menanyakan kabar terkini. Ia bersyukur kepada Allah sekarang sudah mulai tertarik ke lawan jenis dan berniat untuk menikah. Adapun ketertarikan ke sesama lelaki, ia menyatakan sudah tidak. Alhamdulillah…


Klien kedua saat terapi baru turun dari angka 8 ke angka 1 dalam skala 0-10. Terapinya belum tuntas (sampai 0) karena keterbatasan waktu. Meski demikian itu sudah progress yang luar biasa sebenarnya. Masih ada ketertarikan terhadap sesama lelaki, tapi intensitasnya sangat kecil dibandingkan ketertarikan kepada lawan jenis.


Nah, klien kedua ini saya kehilangan kontaknya sehingga belum dapat kabar apakah efek terapi nya masih seperti saat hasil akhir terapi atau ada hal lain. Wallahu a’lam. Saya berdoa supaya efeknya permanen seperti klien pertama.


Dua klien tadi menyadari diri mereka mengidap homoseksual sejak lahir, atau tertular lingkungan?


Ketika digali latar belakangnya, kecenderungan orientasi seksual ke sesama jenis itu mulai terbangun karena pola asuh orang tuanya.


Ada yang dia memiliki kakak-kakak perempuan dan ia sering diperlakukan oleh orang tuanya seperti perempuan.
Ada juga yang kakak-kakaknya semua lelaki dan orang tua nya ingin anak perempuan. Ketika lahir anak laki-laki lagi, cenderung diperlakukan seperti perempuan oleh orang tuanya, terutama ibunya.


Dari kasus gay yang Saya tangani, faktor pola asuh berperan dominan. Mereka menjadi homoseksual karena bentukan sosial, bukan sejak lahir.⁠⁠⁠⁠


Setahu Saya, homoseksual lahir secara alamiah alias karena genetika itu adalah mitos. Memang pernah ada penelitian seperti itu dan ketika diteliti ulang oleh peneliti yang sama dengan responden lebih banyak hasilnya berkebalikan. Homoseksual bukan genetika sehingga pernyataan homoseksual mustahil sembuh itu tidak benar. Faktanya banyak yang Allah sembuhkan ketika yang bersangkutan sungguh-sungguh memperbaiki diri.


Penelitian Prof George Rice dari Kanada pada tahun 1999 pun menyimpulkan homoseksual bukan pengaruh bawaan.


Jadi, pernyataan homoseksual itu bawaan sejak lahir adalah mitos. Faktanya, itu adalah nurture, bukan nature.


Tadi pengalaman dengan gay. Kalau dengan lesbian?


Saya pernah berinteraksi dengan lesbian, tidak dalam konteks terapi, tapi saat menemani istri melakukan riset ke para lesbian di sebuah kabupaten di Jawa Barat.


Komunitas lesbian ini berjumlah lebih dari seratus orang dengan cover klub sepak bola wanita. Tentu tidak bisa digeneralisasi bahwa setiap klub sepak bola wanita pasti lesbian.


Mereka berjumlah banyak rupanya karena aktif merekrut anggota baru. Yang menjadi sasaran biasanya wanita-wanita yang galau dan sakit hati oleh laki-laki. Mereka didekati dan dipengaruhi bahwa urusan cinta tidak harus selalu dengan laki-laki yang suka menipu, kemudian mereka dikenalkan dunia lesbi. Yang awalnya normal pun berubah jadi lesbi. Jadi kaum lesbian juga aktif melakukan rekrutmen dengan pendekatan personal.


Mereka bersedia berpartisipasi dalam penelitian dengan syarat tidak ada dokumentasi (foto/video) dan nama yang tercantum di kuesioner bukan nama asli.


Faktor apa saja yang membuat orang bisa tertular penyakit LGBT ini?


Ada macam-macam faktor:


Pertama, Faktor Pola Asuh. Di sini orang tua berperan dominnan.


Kedua, Faktor Pendidikan. Pendidikan dengan cara liberal dan jauh dari nilai agama tidak memiliki standar halal haram.


Ketiga, Pergaulan. Pergaulan bebas, free sex dan hedonisme lebih berpotensi mendorong seseorang menjadi homoseksual atau biseksual.


Keempat, Faktor Pengalaman Traumatik. Banyak orang yang menjadi homoseksual karena pernah jadi korban sodomi.


Ada mahasiswa yang salah pilih kost di kost-kostan kaum LGBT. Ia diperkosa dengan cara disodomi. Awalnya ia tersiksa, lama-lama jadi homoseksual juga.


Demikian pula anak-anak kecil korban sodomi, ketika besar berpotensi jadi homoseksual.


Yang jahat adalah predator seksual yang menularkan homoseksual melalui pemerkosaan / sodomi ke orang-orang normal sehingga korbannya berubah jadi homoseksual.


Kelima, Faktor Media. Banyak film yang mempromosikan LGBT.  Pornografi yang tersebar melalui komik, VCD, internet dan lain-lain, sekarang ini sudah sedemikian bebas dan mudah diakses. Kontennya banyak yang mempromosikan dan mempraktikkan perilaku LGBT.


Lantas faktor-faktor yang membantu kesembuhan seseorang dari penyakit LGBT apa saja?


Faktor-Faktor yang membantu kesembuhan Ada faktor internal dan eksternal.


Faktor internal berupa kesadaran dan kemauan untuk sembuh, serta kesungguhan melakukan perubahan.


Faktor eksternal berupa dukungan keluarga dan orang-orang dekat, serta membebaskan diri dari lingkungan LGBT.


LGBT menganggap homoseksual bukan penyimpangan. Benarkah?


Di DSM IV (Diagnostic and statistical manual of mental disorder) memang homoseksual sudah dikeluarkan dari penyimpangan seksual. Dulu homoseksual masuk kategori penyimpangan. Pencabutan itu kontroversial karena lebih disebabkan gerilya lobi-lobi dan protes kaum LGBT.


Para ilmuwan pun tidak semua sepakat pencabutan itu. Di Indonesia contohnya Prof Dadang Hawari tidak setuju homoseksual itu bukan penyakit. Dan ada banyak praktisi kesehatan mental yang tidak setuju. Hanya saja karena kiblat psikologi dan psikiatri masih ke barat yang sekuler dan liberal, maka di Indonesia, di PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) terbaru pun ikut-ikutan dicabut.


Jadi ilmu pengetahuan pun faktanya tidak bisa lepas dari kepentingan.


Yang pasti DSM bisa salah, ia bukanlah firman Allah SWT yang pasti benar. Ke depan bisa saja seks dg binatang pun dicabut dari DSM. Tapi perubahan-perubahan dalam DSM atau PPDGJ tidak sedikitpun mengubah keharaman hukum homoseksual dalam agama.


Dalam konteks agama islam, Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya. Maka jika ada yang diuji Allah dengan dorongan syahwat kecenderungan kepada sesama jenis, sebenarnya dia punya kemampuan mengatasi ujian tersebut, kecuali dia lebih mengikuti hawa nafsunya dan mencari pembenaran-pembenaran atas penyimpangan yang dilakukannya.


Sebagai pesan untuk sahabat-sahabat yang diuji kecenderungan homoseksual, insya Allah anda bisa lulus dari ujian tersebut…


img-1501473377.jpg

Nama : Indra Kusumah
Profesi : Psikopreneur
Alamat : Cilengkrang City View Kav 13, Kota Bandung
Jumlah istri dan anak: 1 istri 4 anak
Twitter& IG: @aindraku
Web: http://aindraku.com

Source: http://www.kabarumat.com/2015/07/2731/indra-kusumah-homoseks-adalah-ujian-yang-bisa-diatasi/

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar